Di bulan Ramadan pengeluaran sering kali lebih besar karena perubahan pola konsumsi dan banyaknya penawaran menarik. Jika tidak dibarengi dengan perencanaan keuangan yang matang, kondisi ini berisiko mengganggu stabilitas keuangan Sobat lho! Maka dari itu, menerapkan strategi pengelolaan keuangan dengan mengikuti tips hemat di bulan puasa bisa jadi solusi.
Strategi pengelolaan keuangan selama Ramadan tidak harus rumit atau membatasi kenyamanan Sobat. Tips hemat bulan puasa yang telah Treasury rangkum berikut ini justru akan berfokus pada pengambilan keputusan yang lebih sadar, terencana, dan sesuai prioritas. Yuk simak tips selengkapnya berikut ini!
1. Manfaatkan Promo dan Diskon Secara Bijak
Ramadan identik dengan promo dan diskon yang bertebaran. Mulai dari kebutuhan pokok, makanan berbuka, hingga berbagai produk gaya hidup. Riset perilaku konsumen di Indonesia juga menunjukkan bahwa periode Ramadan hingga Lebaran merupakan salah satu musim belanja tertinggi dalam setahun.
Tanpa disadari, promo juga bisa memicu pembelian impulsif, bukan karena kebutuhan, melainkan hanya karena tergoda harga murah. Tips hemat dari Treasury, Sobat perlu lebih selektif dalam memanfaatkan promo. Fokuskan pada barang atau kebutuhan yang memang sudah direncanakan sebelumnya.
Selain itu, Sobat juga bisa memanfaatkan promo untuk kebutuhan jangka panjang. Misalnya, beberapa promo yang diberikan oleh Treasury di waktu-waktu tertentu atau untuk pengguna baru. Promo ini umumnya berupa Diskon Beli Emas atau Bonus Emas Tambahan. Dengan memanfaatkan promo ini, Sobat bisa menambah aset investasi.
2. Memasak dan Berbelanja Sendiri Jadi Strategi Hemat Selama Bulan Puasa
Memasak sendiri selama bulan puasa memberikan dampak langsung untuk menghemat pengeluaran harian. Biaya satu porsi makanan pesan antar sering kali setara dengan belanja bahan masakan untuk beberapa kali makan. Apalagi jika Sobat berbelanja secara grosir dan menyusun menu untuk kebutuhan keluarga selama sepekan.
Perencanaan menu mingguan membantu belanja bahan lebih terukur dan efisien. Menu sederhana seperti nasi goreng, telur, tahu, atau sayur tumis bisa diolah dengan variasi berbeda tanpa perlu biaya besar. Cara ini juga membantu mengurangi kebiasaan jajan yang sering tidak terasa, tetapi perlahan menguras anggaran keluarga selama Ramadan.
Dari sisi kesehatan, memasak sendiri memberikan keuntungan yang lebih terukur karena Sobat dapat memilih bahan dengan kualitas terbaik. Misalnya, Sobat bisa memilih sayuran segar, daging dengan potongan yang baik, serta mengatur sendiri jumlah gula, garam, dan minyak yang digunakan.
3. Manfaatkan Stok Bahan Makanan yang Sudah Ada agar Hemat di Bulan Puasa
Salah satu kebiasaan yang sering terjadi selama bulan puasa adalah membeli bahan makanan baru tanpa mengecek persediaan yang sudah ada di rumah. Padahal, tidak sedikit bahan yang masih layak konsumsi dan bisa diolah menjadi menu sahur atau berbuka. Sobat bisa mulai dengan mengecek isi kulkas, freezer, dan lemari dapur secara rutin.
Perhatikan bahan yang masa simpannya lebih pendek seperti sayur, buah, tahu, tempe, atau daging segar, lalu prioritaskan untuk diolah lebih dulu. Sobat juga bisa menyusun menu sederhana berdasarkan bahan yang tersedia, seperti mengolah sisa sayur menjadi tumisan, sup, atau lauk pendamping sahur.
Selain membantu menghemat pengeluaran, cara ini juga membuat belanja menjadi lebih terarah dan efisien. Sobat tidak mudah tergoda membeli bahan yang sebenarnya belum dibutuhkan. Kebiasaan memanfaatkan stok yang ada juga melatih Sobat untuk lebih disiplin dalam mengelola persediaan makanan di rumah.
Baca Juga: 6 Tips Mengatasi Impulsive Buying Saat Ramadan – Treasury
4. Kelola THR agar Tidak Habis Sebelum Lebaran
Tunjangan Hari Raya (THR) jadi pemasukan yang paling dinantikan di bulan puasa. Karena datang dalam jumlah cukup besar sekaligus, THR kerap dianggap sebagai bonus yang bebas digunakan untuk berbagai keperluan. Tanpa perencanaan, dana ini bisa habis dalam waktu singkat, terutama untuk belanja konsumtif.
Agar lebih bermanfaat, Sobat bisa mulai dengan membagi THR ke dalam beberapa pos sejak awal. Prioritaskan terlebih dahulu untuk kebutuhan penting seperti zakat, sedekah, atau kewajiban lainnya. Setelah itu, alokasikan untuk kebutuhan Lebaran. Cara ini membantu Sobat tetap bisa menikmati momen Hari Raya tanpa mengorbankan kondisi keuangan.
Selain untuk kebutuhan jangka pendek, menyisihkan sebagian THR untuk berinvestasi juga menjadi langkah yang bijak. Banyak perencana keuangan menyarankan agar sebagian dana tambahan seperti THR tidak dihabiskan seluruhnya, melainkan disimpan untuk tujuan masa depan atau dana darurat.
5. Hindari FOMO agar Pengeluaran Tetap Terkendali
Fenomena FOMO kerap mendorong pengeluaran berlebihan selama Ramadan. Tren busana, hampers mahal, atau agenda buka bersama yang berlebihan sering membuat anggaran membengkak, padahal tidak semuanya bersifat esensial untuk kebutuhan ibadah maupun keluarga selama bulan puasa.
Penting untuk diingat bahwa tidak semua tren harus diikuti. Sobat bisa mulai dengan kembali pada rencana dan prioritas keuangan yang sudah dibuat sebelumnya. Beri jeda waktu sebelum memutuskan membeli sesuatu juga bisa membantu mengurangi keputusan impulsif yang sering berujung pada penyesalan.
Kesadaran membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi kunci pengendalian pengeluaran. Menghindari FOMO bukan berarti Sobat tidak boleh menikmati momen Ramadan, tetapi lebih kepada bijak dalam memilih. Sobat tetap bisa bersosialisasi dan merayakan kebersamaan dengan cara yang sesuai kemampuan finansial
Penerapan tips hemat di bulan puasa ini akan membantu Sobat untuk mengendalikan pengeluaran di tengah meningkatnya kebutuhan di bulan Ramadan. Perencanaan yang tepat membuat keuangan menjadi lebih terarah, sehingga aktivitas ibadah dan tradisi Ramadan dapat dijalani tanpa rasa khawatir berlebihan.
Setelah pengeluaran lebih terkendali, Sobat bisa mengalokasikan sisa dana ke instrumen bernilai stabil seperti emas. Melalui aplikasi investasi emas digital Treasury, investasi bisa dimulai dengan nominal terjangkau dengan mudah di mana dan kapan saja, membantu Sobat secara bertahap memperkuat rencana keuangan jangka panjang.


