Uang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari membeli makanan, membayar kebutuhan sekolah, hingga menentukan apa yang ingin dibeli. Karena itu, mengenalkan cara mengelola uang sejak kecil bisa menjadi bekal penting bagi anak ketika mulai mandiri. Di sinilah parenting keuangan memiliki peran, bukan sekadar mengajarkan anak tentang uang, tetapi juga membentuk kebiasaan dan cara berpikir yang sehat terhadap keuangan.
Anak tidak perlu langsung memahami istilah seperti investasi, inflasi, atau budgeting. Hal yang lebih penting adalah mengenalkan konsep sederhana sesuai usia, seperti membedakan kebutuhan dan keinginan, belajar menabung, serta memahami bahwa uang perlu digunakan dengan bijak.
Lalu, mengapa parenting keuangan perlu dimulai sejak dini dan kapan waktu yang tepat untuk mengenalkannya? Yuk, simak tahapan yang bisa Sobat terapkan sesuai usia anak.
Kenapa Harus Mengajarkan Keuangan ke Anak?
Salah satu alasan penting menerapkan parenting keuangan adalah membantu anak memahami bahwa uang memiliki nilai dan tidak datang begitu saja. Ketika anak terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkan tanpa memahami proses di baliknya, mereka bisa kesulitan memahami batas antara kebutuhan dan keinginan.
Sebaliknya, anak yang mulai dikenalkan pada konsep keuangan secara sederhana dapat belajar membuat pilihan. Misalnya, ketika memiliki uang saku Rp50.000, anak bisa diajak menentukan apakah seluruhnya ingin digunakan hari itu atau sebagian disimpan untuk membeli sesuatu yang lebih diinginkan.
Mengajarkan keuangan juga dapat melatih tanggung jawab. Saat anak diberi kesempatan mengelola uang sakunya sendiri, Sobat bisa mulai mengajarkan bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Jika uang habis untuk membeli sesuatu hari ini, ada kemungkinan anak perlu menunggu sampai mendapatkan uang saku berikutnya.
Lebih jauh lagi, parenting keuangan dapat menjadi bekal sebelum anak benar-benar mengelola uang sendiri. Kebiasaan kecil yang dibentuk sejak dini berpotensi membantu mereka lebih siap menghadapi keputusan finansial ketika dewasa.
Kapan Harus Mulai Menerapkan Parenting Keuangan?
Tidak ada usia yang terlalu dini untuk mengenalkan konsep keuangan kepada anak. Namun, cara mengajarkannya tentu perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan mereka. Anak kecil cukup dikenalkan pada konsep sederhana, sementara remaja sudah bisa diajak berdiskusi tentang budgeting, menabung, hingga investasi.
Tahapan parenting keuangan juga tidak harus dilakukan seperti pelajaran formal. Aktivitas sehari-hari, seperti berbelanja, menerima uang saku, atau menentukan barang yang ingin dibeli, justru bisa menjadi kesempatan untuk mengajarkan anak tentang cara menggunakan uang secara bijak.
Berikut tahapan parenting keuangan yang bisa Sobat terapkan sesuai usia, lengkap dengan contoh praktisnya:
- Usia 3-5 Tahun: Kenalkan Uang Lewat Aktivitas Sehari-hari
Pada usia ini, anak belum perlu memahami konsep keuangan yang rumit. Sobat bisa mulai mengenalkan fungsi uang melalui aktivitas sederhana seperti berbelanja. Misalnya, ketika pergi ke minimarket, jelaskan bahwa uang digunakan untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan atau diinginkan.
Anak juga bisa mulai dikenalkan dengan konsep butuh dan ingin. Ketika meminta membeli mainan, Sobat dapat bertanya, “Ini memang sedang dibutuhkan atau karena kamu ingin punya?” Pertanyaan sederhana seperti ini membantu anak mulai memahami bahwa tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi. Sobat bisa coba melakukan:
- Ajak anak memasukkan uang ke celengan.
- Berikan dua pilihan jajanan dan biarkan anak memilih salah satunya.
- Saat berbelanja, ajak anak membedakan barang kebutuhan dan keinginan.
- Gunakan permainan toko-tokoan untuk mengenalkan fungsi uang.
Di tahap ini, tujuan parenting keuangan bukan membuat anak memahami nilai uang secara detail. Fokusnya adalah membangun kebiasaan sederhana bahwa uang perlu digunakan untuk suatu tujuan.
- Usia 6-8 Tahun: Mulai Belajar Menabung
Memasuki usia sekolah, anak sudah bisa mulai memahami hubungan antara uang, menabung, dan tujuan. Sobat dapat memberikan celengan khusus untuk menyimpan uang yang mereka miliki.
Agar lebih menarik, tentukan target yang konkret. Misalnya, anak ingin membeli buku seharga Rp100.000. Jika memiliki Rp20.000, Sobat bisa mengajaknya menghitung berapa lagi yang perlu dikumpulkan. Anak pun mulai memahami bahwa sesuatu yang diinginkan membutuhkan proses. Contohnya:
- Buat target tabungan untuk membeli buku atau mainan.
- Gunakan celengan berbeda untuk “dipakai” dan “ditabung”.
- Ajak anak mencatat jumlah uang yang sudah terkumpul.
- Berikan apresiasi ketika anak berhasil mencapai target.
Kebiasaan ini menjadi bagian penting dari parenting keuangan karena anak mulai belajar menunda keinginan dan memahami bahwa menyisihkan uang sedikit demi sedikit dapat membantu mencapai tujuan.
- Usia 9-12 Tahun: Belajar Mengatur Uang Saku
Saat anak mulai mendapatkan uang saku secara rutin, Sobat dapat memberikan tanggung jawab yang lebih besar. Misalnya, anak mendapatkan uang saku Rp50.000 per hari dan diberi kesempatan menentukan bagaimana sebagian uang tersebut akan digunakan.
Sobat bisa mulai memperkenalkan pembagian sederhana: uang untuk digunakan, ditabung, dan jika memungkinkan, disisihkan untuk berbagi. Tidak perlu menggunakan persentase yang kaku. Yang penting, anak memahami bahwa seluruh uang tidak harus dihabiskan. Untuk melatihnya, Sobat bisa coba cara ini:
- Berikan uang saku mingguan dan biarkan anak mengaturnya.
- Minta anak mencatat pengeluaran selama seminggu.
- Ajak mengevaluasi pengeluaran di akhir minggu.
- Jika uang habis sebelum waktunya, diskusikan apa yang bisa dilakukan berbeda.
Pada tahap ini, parenting keuangan mulai berkembang dari sekadar mengenalkan uang menjadi latihan membuat keputusan. Anak belajar bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi dan perlu mempertimbangkan prioritas.
- Usia 13-15 Tahun: Kenalkan Budgeting dan Tujuan Finansial
Memasuki masa remaja, kebutuhan anak mulai semakin beragam. Mereka mungkin ingin membeli pakaian, gadget, mengikuti kegiatan bersama teman, atau menabung untuk sesuatu yang lebih besar. Kondisi ini bisa menjadi kesempatan untuk mengenalkan budgeting secara sederhana.
Sobat bisa mengajak anak membuat daftar pemasukan dan pengeluaran selama satu bulan. Dari sana, mereka dapat melihat ke mana uang pergi dan menentukan mana yang perlu diprioritaskan.
- Berikan uang saku bulanan dengan jumlah yang disepakati.
- Ajak anak membuat budget untuk kebutuhan dan keinginan.
- Buat target tabungan untuk barang yang ingin dibeli.
- Diskusikan konsekuensi jika budget untuk satu kategori terlalu banyak digunakan.
Di usia ini, Sobat juga bisa mulai mengenalkan konsep membangun aset secara sederhana. Misalnya, jelaskan bahwa sebagian uang yang berhasil disisihkan tidak harus selalu disimpan dalam bentuk uang tunai, tetapi dapat dipelajari lebih lanjut untuk ditempatkan pada aset sesuai tujuan dan pemahaman mereka.
- Usia 16–18 Tahun: Mulai Kenalkan Investasi dan Kemandirian Finansial
Menjelang dewasa, pembahasan parenting keuangan bisa dibuat lebih luas. Selain budgeting dan tabungan, Sobat mulai dapat mengenalkan konsep dana darurat, rekening bank, investasi, risiko, dan pentingnya memiliki tujuan finansial.
Pada tahap ini, Sobat tidak perlu langsung mengarahkan anak untuk memilih produk investasi tertentu. Lebih baik mulai dari konsepnya: apa itu investasi, mengapa orang berinvestasi, bagaimana risiko bekerja, dan mengapa keputusan investasi perlu disesuaikan dengan tujuan serta kemampuan finansial.
Ketika anak sudah cukup memahami konsep tersebut, investasi emas digital bisa diperkenalkan sebagai salah satu contoh instrumen yang dapat dipelajari. Treasury, misalnya, menyediakan investasi emas digital yang dapat dimulai dari nominal yang terjangkau, sehingga bisa disesuaikan dengan kemampuan. Coba untuk:
- Ajak anak membuat target aset pertama, misalnya Rp1.000.000.
- Beri contoh bagaimana menyisihkan sebagian uang secara rutin.
- Diskusikan perbedaan menabung dan investasi.
Cara seperti ini membuat parenting keuangan terasa lebih relevan. Anak tidak hanya mendengar teori tentang investasi, tetapi melihat bagaimana kebiasaan menyisihkan uang dapat berkembang menjadi upaya membangun aset.
Yang Terpenting, Sesuaikan dengan Kondisi Anak
Setiap anak memiliki perkembangan dan kondisi keluarga yang berbeda. Karena itu, tahapan parenting keuangan di atas tidak harus diterapkan secara kaku. Jika anak usia 10 tahun sudah tertarik memahami tabungan, misalnya, Sobat bisa memperkenalkan konsep yang sedikit lebih kompleks selama mereka mampu memahaminya.
Sebaliknya, tidak masalah jika anak membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami konsep tertentu. Tujuan utamanya bukan membuat anak cepat mahir mengelola uang, melainkan membangun kebiasaan yang sehat secara bertahap.
Parenting keuangan akan lebih efektif ketika dilakukan melalui contoh nyata dan percakapan sehari-hari. Mulai dari memilih jajanan, mengatur uang saku, menabung untuk membeli sesuatu, hingga mengenal investasi saat sudah cukup usia. Semuanya bisa menjadi bagian dari proses mempersiapkan anak agar lebih mandiri secara finansial.
Parenting Keuangan Dimulai dari Kebiasaan Kecil
Mengajarkan anak tentang uang tidak harus menunggu mereka cukup besar untuk memahami istilah keuangan yang rumit. Mengenalkan konsep kebutuhan dan keinginan, memberikan kesempatan menabung, serta mengajarkan cara mengelola uang saku sudah bisa menjadi langkah awal.
Setiap tahap usia memiliki fokus yang berbeda. Anak kecil membutuhkan pemahaman dasar, anak usia sekolah mulai belajar menabung, remaja belajar mengatur uang dan membuat prioritas, sementara mereka yang mendekati usia dewasa mulai dipersiapkan untuk mengelola keuangan secara mandiri.
Tujuan utama dalam penerapan parenting keuangan bukan untuk membuat anak menjadi ahli mengelola uang sejak kecil, melainkan membangun kebiasaan dan pola pikir yang dapat mereka bawa hingga dewasa. Sobat bisa memulainya dari hal sederhana hari ini, lalu mengembangkannya seiring usia dan kemampuan anak.


