Trivia
Generational Money Trauma: Saat Trauma Finansial Jadi Warisan Keluarga
Anisatul Khanifah
Kamis, 27 November 2025
trauma finansial

Banyak dari kita tumbuh dengan pesan yang terdengar sederhana seperti “hemat itu wajib” atau “uang susah dicari, jadi jangan foya-foya.” Namun, di balik nasihat itu, sering kali tersembunyi rasa takut akan kemiskinan, takut gagal, atau takut dinilai boros. Kondisi ini dikenal dengan istilah generational money trauma atau trauma finansial.

Lama-lama, ketakutan ini membentuk pola pikir finansial yang kita anggap normal. Padahal bisa jadi itu trauma finansial yang diwariskan turun-temurun. Memahami kondisi ini menjadi penting, karena tanpa disadari trauma finansial dapat memengaruhi cara kita bekerja, mengambil keputusan, bahkan menikmati hidup.

Yuk, kenali lebih dalam agar Sobat bisa membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang dan memutus rantai luka finansial lintas generasi melalui pembahasan dalam artikel di bawah ini!

 Apa Itu Generational Money Trauma atau Trauma Finansial? 

Rasa bersalah atau cemas terhadap uang sering kali berakar dari generational money trauma. Generational money trauma adalah luka emosional yang timbul akibat pengalaman finansial negatif di masa lalu dan diwariskan lintas generasi melalui pola pikir, kebiasaan, serta cara keluarga memandang uang. 

Kondisi tersebut bukan sekadar hasil dari kebiasaan hemat. Ia tumbuh dari keyakinan lama bahwa uang harus disimpan, bukan digunakan. Anak yang tumbuh dengan pesan seperti ini cenderung membawa rasa takut dan bersalah ketika berhadapan dengan keputusan finansial di masa dewasa.

Kekhawatiran semacam itu kini semakin marak ditemui di kalangan anak muda. Survei OCBC Financial Fitness Index 2025 menunjukkan banyak anak muda merasa tidak siap menghadapi situasi finansial sulit. Ketakutan kehilangan uang mencerminkan pola lama yang belum terselesaikan dan inilah akar dari trauma finansial.

Tanda-Tanda Sobat Mengalami Trauma Finansial

1. Takut Menggunakan Uang Sendiri

Sobat yang tumbuh dalam keluarga dengan kondisi ekonomi pas-pasan sering membawa pola pikir hati-hati berlebihan saat dewasa dan menanamkan pandangan negatif terhadap penggunaan uang. Sobat kerap menunda pengeluaran penting karena takut uang berkurang. Meskipun itu hasil kerja sendiri, perasaan cemas tetap muncul.

Trauma Finansial semacam ini membentuk keyakinan bahwa uang harus sangat dijaga dan tidak boleh digunakan kecuali sangat mendesak. Akibatnya, Sobat lebih sering menahan diri untuk memakai uang pada hal-hal yang sebenarnya wajar atau bahkan bermanfaat bagi masa depan seperti berinvestasi.

2. Rasa Bersalah Saat Menikmati Hasil Kerja

Trauma finansial lintas generasi atau generational money trauma juga menanamkan keyakinan bahwa uang hanyalah alat bertahan hidup, bukan sarana untuk memberi penghargaan pada diri sendiri. Sehingga, muncul rasa bersalah yang berlebihan ketika Sobat merasakan kesenangan kecil atau membeli sesuatu untuk hadiah bagi diri sendiri.

Sobat merasa tidak pantas menikmati hasil kerja kerasmu sendiri. Akibatnya, aktivitas sederhana yang seharusnya menyenangkan malah berubah menjadi sumber tekanan emosional.

3. Pola Belanja Impulsif Hasil dari Trauma Finansial

Sebagian orang justru memproses trauma finansial dengan cara yang berbeda, yaitu dengan menghabiskan uang demi menenangkan diri. Uang dijadikan alat pelarian dari rasa cemas. Kebiasaan ini tidak pernah memberikan ketenangan jangka panjang karena sifatnya sementara. Bahkan setelahnya bisa jadi muncul rasa penyesalan mendalam. 

Siklus ini menandakan hubungan yang belum sehat antara kondisi emosional dan perilaku finansial seseorang. Generational money trauma atau trauma finansial yang dirasakan membuat pengelolaan uang tidak lagi berbasis kebutuhan atau rencana, tetapi pada dorongan emosional yang sulit dikendalikan.

4. Trauma Finansial Bisa Membuat Sobat Takut Bicara Soal Uang

Bagi orang yang mengalami trauma finansial, topik uang bahkan dengan orang terdekat bisa jadi terasa menegangkan. Kondisi ini terbentuk dari pengalaman di masa kecil ketika pembicaraan soal keuangan di rumah diwarnai pertengkaran, tekanan, atau rasa cemas berkepanjangan.

Sobat akan lebih memilih diam untuk menghindari konflik. Ketakutan untuk berdiskusi tentang uang membuat Sobat sulit menetapkan tujuan finansial bersama, sehingga siklus ketidakterbukaan yang dulu ada dalam keluarga kembali terulang. Padahal, komunikasi finansial penting bagi keseimbangan hubungan agar stabil dan bisa saling memahami.

Baca Juga: 5 Cara Mengatur Keuangan Sandwich Generation Tanpa Mengorbankan Masa Depan – Treasury

Dampak Trauma Finansial dalam Kehidupan

1. Trauma Finansial Bisa Menyebabkan Konflik dalam Hubungan

Perbedaan pandangan soal keuangan sering kali menjadi sumber masalah dalam suatu hubungan. Satu pihak dianggap boros, sementara yang lain dinilai terlalu hemat. Akar perbedaan ini umumnya berasal dari pengalaman keluarga yang berbeda dalam memaknai rasa aman, cukup, serta cara menjaga kestabilan finansial bersama.

2. Takut Mengambil Risiko Karir

Bagi sebagian orang, kehilangan stabilitas finansial terasa menakutkan. Rasa takut gagal membuat mereka enggan mengambil langkah baru seperti pindah kerja atau membuka usaha. Akibatnya, peluang berkembang terlewat karena keputusan didasari rasa takut, bukan perhitungan rasional.

Akibatnya, banyak kesempatan untuk berkembang, belajar, atau meningkatkan pendapatan terlewat begitu saja. Pola ini bukan hanya menghambat kemajuan individu, tetapi juga memperkuat siklus trauma finansial, karena sobat akan tetap berada dalam zona aman yang diciptakan oleh ketakutan masa lalu.

3. Kesulitan Mengelola Uang Jadi Dampak dari Trauma Finansial

Trauma finansial juga membuat seseorang cenderung menghindari hal-hal yang berhubungan dengan uang. Menyusun anggaran, mencatat pengeluaran, atau merencanakan investasi akan terasa menakutkan karena mengingatkan pada situasi penuh tekanan di masa kecil.

Padahal, langkah kecil seperti mencatat pengeluaran dapat membantu membangun rasa percaya diri dalam mengelola uang. Sobat perlu memahami bahwa mengatur keuangan bukanlah ancaman, melainkan alat untuk menciptakan keamana. Proses ini memang harus dilakukan secara bertahap untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang.

Generational money trauma atau trauma finansial bukanlah hal yang harus diwariskan. Sobat punya kesempatan untuk memutus rantai tersebut dan menggantinya dengan kebiasaan finansial yang lebih sehat. Salah satu caranya adalah dengan membangun ketahanan finansial sejak dini, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk generasi selanjutnya.

Investasi emas digital dapat menjadi fondasi awal untuk mewujudkan ketahanan finansial. Aset ini mudah diakses, transparan, dan dapat dimulai dengan nominal kecil sehingga siapa pun dapat belajar mengelola uang tanpa tekanan. Melalui aplikasi Treasuy, Sobat bisa berinvestasi emas digital mulai dari Rp5.000 saja.

Kebiasaan menabung dan berinvestasi secara konsisten ini akan membantu Sobat untuk memperkuat rasa aman finansial dan juga mewariskan pola pikir baru bahwa uang bisa dikelola dengan bijak, penuh kendali, dan bermanfaat bagi masa depan yang lebih stabil. Inilah saatnya berhenti mewariskan trauma finansial dan mulai mewariskan ketahanan finansial melalui investasi emas digital.

Artikel Populer
Harga Emas Hari ini 14, analisa harga emas, harga emas antam hari ini, harga emas digital hari ini, harga emas treasury hari ini, prediksi harga emas
Berita, Emas, Kabar Emas
The Fed dan Geopolitik Dorong Reli, Harga Emas Hari Ini Selasa, 14 Oktober 2025 Kompak Cetak Rekor Tertinggi
Selasa, 14 Oktober 2025
Emas
Mengenal Karat, Ukuran Kandungan Emas
Kamis, 18 Juli 2024
Promo Kado Valentine
Promo
Valentine Makin Spesial Karena Ada Kado Spesial Logam Mulia dari Treasury! 🎁💕
Sabtu, 01 Februari 2025