Harga emas dunia hari ini kembali bergerak melemah setelah sebelumnya mengalami tekanan pada perdagangan akhir pekan lalu. Senin, 7 September 2026 pukul 06.34 WIB, harga emas tercatat turun tipis 0,02% ke posisi USD4.427 per troy ons.
Pelemahan tersebut sekaligus memperpanjang tren negatif harga emas dalam beberapa waktu terakhir. Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat, 4 September 2026, harga emas ditutup di level USD4.427,7 per troy ons setelah mengalami penurunan sebesar 1%. Dalam sepekan, harga emas juga terkoreksi 0,56%. Dengan pergerakan tersebut, harga emas telah mencatat penurunan selama dua pekan berturut-turut.
Tekanan terhadap emas pada akhir pekan lalu tidak terlepas dari rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang cukup kuat. Data tersebut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam pertemuan September.
Salah satu sentimen terbaru yang memberikan tekanan terhadap harga emas berasal dari data ketenagakerjaan AS. US Bureau of Labor Statistics melaporkan bahwa perekonomian Amerika Serikat menciptakan 162.000 lapangan kerja non-pertanian (non-farm payrolls) pada Agustus. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan capaian bulan sebelumnya yang hanya sebesar 21.000 lapangan kerja, sekaligus berada jauh di atas perkiraan pasar sebesar 56.000.
Sementara itu, tingkat pengangguran AS pada Agustus tercatat sebesar 4,1%. Angka tersebut tidak mengalami perubahan dibandingkan posisi pada Juli. Kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih solid membuat pelaku pasar melihat adanya kemungkinan yang cukup besar bagi bank sentral Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga acuan dalam rapat bulan ini.
Respons pasar terhadap data ketenagakerjaan tersebut turut tercermin dalam pergerakan sejumlah aset. Ewa Manthey, Commodity Strategist di ING Bank, menjelaskan bahwa pergerakan harga emas merupakan respons terhadap data ketenagakerjaan yang mengejutkan. Menurutnya, data tersebut mendorong yield obligasi meningkat dan dolar AS menguat karena pasar memperkirakan The Fed akan memperketat kebijakan moneternya. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pergerakan emas.
Penguatan imbal hasil (yield) US Treasury dan dolar AS pun ikut memberikan tekanan terhadap harga emas. Di sisi lain, kenaikan harga minyak turut menjadi perhatian pasar karena berpotensi membuat inflasi tetap tinggi. Jika kondisi tersebut bertahan, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter dapat menjadi semakin terbatas.
Meski berada dalam tekanan, pergerakan emas sebelumnya menunjukkan bahwa minat beli investor masih cukup kuat. Pada awal pekan lalu, harga emas sempat melonjak mendekati USD4.700 per troy ounce. Namun, harga kemudian mengalami koreksi tajam hingga berada di sekitar USD4.450. Setelah itu, emas kembali mengalami pemulihan yang menunjukkan investor masih aktif melakukan pembelian ketika harga mengalami penurunan.
Selain kebijakan moneter The Fed, permintaan fisik dari China juga menjadi salah satu sumber dukungan penting bagi harga emas. China dilaporkan membeli lebih dari 40 ton emas melalui pasar over-the-counter (OTC) London pada Juni. Pembelian tersebut menjadi pembelian bulanan terbesar kedua sejak awal 2025.
Besarnya pembelian tersebut turut menarik perhatian karena jumlahnya lebih tinggi dibandingkan angka pembelian yang secara resmi dilaporkan oleh People's Bank of China. Kondisi ini membuka kemungkinan bahwa akumulasi emas China sebenarnya lebih besar dibandingkan yang tercermin dalam data cadangan resmi.
China sendiri telah mempertahankan tren pembelian emas selama sekitar 20 bulan. Konsistensi tersebut menunjukkan bahwa minat strategis China terhadap logam mulia masih kuat dan menjadi salah satu faktor yang dapat memberikan dukungan bagi harga emas.
Harga Emas Hari Ini Senin, 7 September 2026 di Indonesia
Pergerakan harga emas di dalam negeri turut mengikuti dinamika harga emas dunia. Pekan lalu, harga emas mengalami koreksi yang cukup signifikan. Menjelang akhir pekan, harga sempat kembali menguat sebelum akhirnya terkoreksi lagi pada perdagangan terakhir pekan tersebut.
Pada Senin, 7 September 2026, harga beli emas Antam kembali mengalami penurunan. Harga tersebut terkoreksi sebesar Rp3.000 dari posisi sebelumnya Rp2.640.000 per gram menjadi Rp2.637.000 per gram.
Tidak hanya harga belinya, harga buyback atau harga jual kembali emas Antam juga masih berada dalam tren penurunan. Hari ini, harga buyback Antam berada di level Rp2.490.000 per gram. Angka tersebut turun Rp3.000 dibandingkan harga buyback pada akhir pekan yang berada di posisi Rp2.493.000 per gram.
Penurunan juga terjadi pada emas digital. Pada Senin, 7 September 2026 pukul 10.00 WIB, harga beli emas di aplikasi Treasury tercatat sebesar Rp2.559.960 per gram. Harga tersebut turun Rp7.048 per gram dibandingkan harga pada akhir pekan yang berada di level Rp2.567.008 per gram.
Pergerakan harga emas fisik maupun emas digital tersebut menunjukkan bahwa harga emas di Indonesia turut merespons tekanan yang terjadi pada pasar emas global.
Prediksi Harga Emas Mendatang
Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada data inflasi Amerika Serikat, khususnya Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI). Kedua data tersebut akan menjadi indikator penting bagi investor dalam memperkirakan langkah kebijakan The Fed berikutnya.
Mengutip CME FedWatch, probabilitas kenaikan Federal Funds Rate dalam rapat September saat ini berada di level 58,3%. Di sisi lain, inflasi AS masih cukup tinggi, yakni berada di atas target 2%. Ditambah dengan kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih memiliki daya tahan, kenaikan suku bunga acuan pun dinilai menjadi lebih sulit untuk dihindari.
Pergerakan inflasi nantinya dapat menjadi faktor penting bagi arah harga emas. Apabila inflasi AS kembali meningkat atau memanas, dolar AS berpotensi menguat dan ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat juga dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga emas.
Sebaliknya, apabila inflasi menunjukkan perlambatan, dolar AS berpotensi melemah. Ekspektasi terhadap penurunan suku bunga juga dapat kembali menguat sehingga menjadi katalis positif bagi harga emas.
Walaupun mengalami koreksi pada akhir pekan lalu, tren bullish emas belum mengalami patahan. Sejumlah faktor masih menjadi penopang harga, termasuk permintaan emas dari China, ketidakpastian geopolitik, serta ekspektasi bahwa kondisi moneter pada akhirnya dapat menjadi lebih longgar.
Prospek harga emas pada pekan ini pun masih terbagi. Berdasarkan hasil survei, sebanyak 38% analis Wall Street memperkirakan harga emas akan mengalami kenaikan. Sementara itu, 31% analis memprediksi harga akan turun dan 31% lainnya memperkirakan emas bergerak sideways dengan volatilitas yang tinggi.
Pandangan investor individu juga masih cenderung positif. Dari 220 responden, sebanyak 55% memperkirakan harga emas akan naik. Sebanyak 24% memperkirakan harga emas turun, sedangkan 21% lainnya memperkirakan emas bergerak sideways atau masih belum memiliki arah yang jelas.
Dalam jangka pendek, harga emas diperkirakan bergerak dalam rentang USD4.320 hingga USD4.670 per troy ounce. Level USD4.280 menjadi area support penting yang perlu diperhatikan. Apabila level tersebut berhasil ditembus, harga emas berpotensi kembali mengalami penurunan menuju USD4.200 per troy ounce.
Dengan kondisi tersebut, emas masih memiliki fondasi bullish, tetapi perjalanan menuju rekor harga baru diperkirakan tidak akan mudah. Pergerakan The Fed, inflasi AS, dolar AS, yield Treasury, serta permintaan emas dari China akan menjadi sejumlah faktor utama yang menentukan arah harga emas dalam waktu dekat.
Secara teknikal menggunakan perspektif mingguan (weekly time frame), emas masih bertahan di zona bullish. Hal tersebut terlihat dari indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang berada di level 52. RSI di atas 50 menunjukkan bahwa suatu aset berada dalam posisi bullish. Namun, RSI emas yang belum bergerak jauh di atas level 50 menunjukkan bahwa kondisinya masih cenderung netral.
Sementara itu, indikator Stochastic RSI berada di level 72. Posisi tersebut menunjukkan bahwa emas masih berada di area beli (long) yang kuat. Dengan demikian, meskipun harga emas masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek, sejumlah indikator teknikal dan fundamental masih menunjukkan adanya fondasi yang dapat menopang pergerakannya.
Saatnya Investasi Emas, Mulai dari Rp 5.000-an Aja
Naik turunnya harga emas harian tidak perlu Sobat khawatirkan. Secara akumulatif harga emas pasti akan mengalami kenaikan setiap tahunnya. Idealnya emas memang digunakan untuk investasi jangka menengah dan jangka panjang.
Jadi gak perlu ragu untuk mulai investasi emas. Sekarang, Sobat bisa membeli emas dengan mudah dan murah, mulai dari Rp5 ribu di Treasury!
Treasury merupakan pedagang emas fisik digital pertama yang berlisensi BAPPEBTI. Transaksi digital terjamin aman karena telah terdaftar di Komdigi dan berpartner dengan ICH untuk menjamin keamanan transaksi pengguna.
Treasury juga merupakan anggota dari ICDX yaitu lembaga kliring serta bursa berjangka yang diawasi oleh BAPPEBTI. Jadi Sobat gak perlu khawatir dengan legalitas dan keamanan berinvestasi emas di Treasury.
Tidak hanya itu. Terdapat berbagai fitur menarik Treasury seperti Jamimas (pinjaman emas), Panen Emas dengan bunga mencapai 9% p.a, GRATIS simpan dan transfer emas, serta masih banyak promo dan hadiah spesial lainnya.
Meski menabung emas secara digital, Sobat tetap bisa kok mencetak tabungan emasmu menjadi emas fisik, koin, atau perhiasan karena Treasury juga bekerja sama dengan PT. Antam dan UBS.
Tunggu apalagi? Mulai investasi emasmu sekarang untuk finansial yang lebih baik di masa kini dan masa depan!


