Perhelatan piala dunia selalu menjadi ajang yang dinantikan oleh banyak penggemar sepak bola. Selain menghadirkan pertandingan bergengsi dan euforia yang luar biasa, ekonomi global juga ikut bergerak selama turnamen berlangsung. Semuanya berpotensi merasakan dampak dari pesta sepak bola terbesar di dunia ini.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada sisi lain yang juga menarik untuk dicermati. Sejumlah analis menilai bahwa piala dunia tidak hanya memengaruhi industri olahraga, tetapi juga dapat berdampak terhadap likuiditas ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satu faktor yang menjadi sorotan adalah meningkatnya aktivitas taruhan olahraga.
Piala Dunia 2026: Lebih Besar, Lebih Ramai, Lebih Berdampak
FIFA World Cup 2026 adalah edisi paling ambisius dalam sejarah turnamen ini. Untuk pertama kalinya, format 48 tim peserta digunakan, menghasilkan total 104 pertandingan yang berlangsung selama 39 hari di tiga negara sekaligus, yaitu Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Secara ekonomi global, skala penyelenggaraan ini luar biasa. Turnamen ini diproyeksikan mampu menjual sekitar 3 juta tiket, menciptakan 1,5 juta lapangan kerja, dan menghasilkan dampak ekonomi hingga USD80 miliar bagi negara-negara penyelenggara. Angka yang jauh melampaui edisi-edisi sebelumnya.
Bagi Indonesia sendiri, Managing Director Paramadina Public Policy Institute (PPPI), Rosyid Jazuli, memperkirakan perputaran ekonomi domestik dari momentum Piala Dunia 2026 bisa berkisar antara Rp 3 triliun hingga Rp 4 triliun, yang didorong oleh konsumsi masyarakat selama turnamen berlangsung.
Sekilas, angka ini terdengar menggembirakan. Namun ada sisi lain dari cerita ini yang perlu Sobat ketahui.
Mengapa Likuiditas Ekonomi Penting?
Sebelum masuk ke dampaknya, ada baiknya kita pahami dulu apa itu likuiditas dalam konteks ekonomi. Likuiditas merupakan kemampuan uang untuk terus berputar dalam sistem ekonomi melalui aktivitas konsumsi, investasi, dan transaksi bisnis. Semakin aktif perputaran uang terjadi, semakin besar pula peluang pertumbuhan ekonomi yang tercipta.
Ketika seseorang membelanjakan uangnya di warung atau toko lokal, pemilik warung mendapat penghasilan, lalu menggunakannya untuk membeli bahan baku dari pemasok, pemasok membayar karyawan, karyawan berbelanja lagi, dan seterusnya. Inilah yang disebut efek berganda dalam ekonomi.
Sebaliknya, ketika dana masyarakat mengalir ke aktivitas yang tidak produktif, efek berganda itu terhenti. Dana berpindah tangan, tetapi tidak menciptakan nilai tambah yang nyata bagi perekonomian. Karena itu, setiap pergeseran aliran dana dalam jumlah besar patut diperhatikan. Termasuk ketika piala dunia berlangsung.
Baca Juga: Mungkinkah Krisis Global 2030 Terjadi? Siapkan Keuangan dengan 7 Langkah Ini – Treasury
3 Dampak Piala Dunia 2026 terhadap Likuiditas Ekonomi Indonesia
1. Lonjakan Dana ke Aktivitas Taruhan Global Selama Piala Dunia
Salah satu risiko paling nyata yang disorot para analis adalah meningkatnya aktivitas taruhan olahraga. Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menyatakan bahwa Piala Dunia 2026 berpotensi memicu lonjakan taruhan global secara legal hingga USD60 miliar, atau meningkat sekitar 71% dibandingkan Piala Dunia 2022 di Qatar.
Nilai ini bahkan belum memperhitungkan aktivitas perjudian ilegal yang diperkirakan jauh lebih besar. Angka tersebut mencerminkan jutaan orang di seluruh dunia yang mengalihkan sebagian dana mereka ke aktivitas spekulatif selama 39 hari turnamen berlangsung. Dana yang seharusnya bisa digunakan untuk kebutuhan produktif justru tersedot ke meja taruhan.
Untuk Indonesia secara khusus, proyeksinya tidak kalah mengkhawatirkan. Berkaca pada data transaksi judi online di Indonesia tahun 2025 yang mencapai Rp286,8 triliun, Kiwoom Sekuritas memperkirakan potensi dana domestik yang berpindah ke aktivitas judi bola selama Piala Dunia bisa mencapai Rp30 triliun hingga Rp60 triliun.
2. Konsumsi dan Investasi Produktif Domestik Terancam Melambat
Setiap rumah tangga memiliki sumber dana yang terbatas. Ketika sebagian dana dialihkan ke aktivitas taruhan selama piala dunia, alokasi untuk kebutuhan lain seperti konsumsi, tabungan, dana darurat, atau investasi jangka panjang berpotensi berkurang. Dalam skala individu, dampaknya mungkin tidak terlalu terasa.
Namun jika terjadi secara luas, kondisi ini dapat memengaruhi perputaran dana dalam ekonomi domestik. Padahal, dana yang mengalir ke sektor produktif berperan penting dalam mendukung pertumbuhan usaha, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak.
Karena itu, di tengah euforia piala dunia, penting bagi masyarakat untuk tetap mengelola keuangan secara bijak agar tujuan finansial jangka panjang tidak terganggu.
3. Nilainya Setara dengan Porsi Besar Dana di Pasar Keuangan
Gambaran besarnya menjadi semakin jelas ketika dibandingkan dengan indikator pasar modal. Nilai perputaran judi bola selama 39 hari penyelenggaraan Piala Dunia 2026 diperkirakan setara dengan 40% hingga 70% dari total net sell investor asing di IHSG sepanjang tahun 2026 (year to date).
Sebagai konteks, investor asing telah mencatatkan aksi jual bersih hampir Rp80 triliun dari pasar saham Indonesia sejak awal 2026. IHSG memang sudah rebound ke kisaran level 6.000 dari titik terendah di 5.317, tetapi pemulihan ini lebih banyak ditopang oleh investor domestik, bukan kembalinya dana asing.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pergeseran dana dalam jumlah besar selama Piala Dunia bukan sekadar fenomena sosial, melainkan memiliki implikasi nyata terhadap ekosistem keuangan Indonesia. Dana yang seharusnya bisa memperkuat sisi investasi domestik justru berpotensi terserap ke jalur yang tidak produktif.
Mengapa Emas Cocok Justru di Momen Seperti Ini?
- Emas terbukti tahan terhadap gejolak
Ketidakpastian geopolitik, pelemahan rupiah, dan kondisi fiskal yang masih menjadi sorotan investor global membuat emas tetap relevan sebagai pelindung nilai. Suku bunga yang masih tinggi menjadi tekanan jangka pendek, tapi secara struktural, faktor-faktor pendukung emas masih sangat kuat.
- Emas punya korelasi rendah dengan aset berisiko
Ketika pasar saham jatuh, harga emas sering justru naik. Para perencana keuangan umumnya menyarankan alokasi emas sebesar 5-15% dari total portofolio sebagai pelindung tanpa harus mengorbankan potensi pertumbuhan dari aset lain.
- Emas punya rekam jejak pertumbuhan jangka panjang yang konsisten
Menurut data Oxford Gold Group, rata-rata tingkat pertumbuhan tahunan emas selama 20 tahun terakhir adalah 11,2%. Angka yang cukup untuk mengalahkan inflasi dan mempertahankan daya beli Sobat dari waktu ke waktu.
- Momen koreksi adalah kesempatan akumulasi
Dalam strategi investasi jangka panjang, beli saat harga sedang terkoreksi adalah langkah yang lebih bijak dibanding menunggu harga kembali ke puncaknya. Koreksi yang terjadi saat ini bisa jadi momentum yang tidak datang dua kali.
Perayaan piala dunia memang identik dengan hiburan, antusiasme, dan kebersamaan. Namun di balik kemeriahannya, terdapat berbagai dinamika yang juga dapat memengaruhi ekonomi, termasuk potensi pergeseran likuiditas akibat meningkatnya aktivitas taruhan global selama turnamen berlangsung.
Piala Dunia memang hanya berlangsung 39 hari, tapi keputusan finansial yang Sobat ambil hari ini bisa berdampak selama bertahun-tahun ke depan. Sementara orang lain mempertaruhkan uangnya di meja taruhan, Sobat justru bisa memanfaatkan momen ini untuk satu langkah lebih maju dalam perjalanan finansialmu.
Di sisi lain, kondisi harga emas yang sedang dalam fase koreksi justru membuka peluang bagi investor cerdas untuk masuk dan memulai akumulasi. Dengan fundamental yang masih kuat dan dukungan dari berbagai lembaga keuangan global, emas tetap menjadi salah satu aset investasi paling relevan di tengah ketidakpastian.
Jadi, sekarang pilihan ada di tangan Sobat. Apakah Sobat akan ikut dalam arus euforia sementara yang mengganggu fondasi keuangan, atau justru memanfaatkan momen ini untuk menambah keuntungan di masa depan? Apa pun tujuan finansial Sobat, mulailah mempersiapkannya dari sekarang melalui investasi emas digital di Treasury!


